My Personal Story : Selalu Ada Ujian dalam Kehidupan
“Byuurrr!!!” tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh ke dalam kolam itu.
“Aaaaaa…. Tidaaakk… Ibuuu tolong akuuuu!!!”
Tiba-tiba ibu tersentak dari duduk santainya di halaman rumah sambil asyik berbincang bersama bibiku yang menjadi tuan rumah.
“Loh dek, suara siapa itu? Seperti ada yang teriak dari kolam belakang” tanya ibu kepada bibi.
“Bukannya itu suara anakmu? Jangan-jangaan… Dia tenggelam!” Kata bibi berseru.
“Lah mana mungkin dia tenggelam? Dia kan jago renang. Eh, yaa gak jago-jago amat sih, setidaknya dia bisa renang lah!” kata ibu seraya tidak percaya.
“Udah jangan banyak omong, cepat lihat dia! Siapa tahu dia terpeleset, panik, lalu mendadak gak bisa renang, tenggelam, teruuss…”
Belum selesai bibi bicara, tiba-tiba terdengar lagi teriakan minta tolong dari kolam belakang rumah. Bahkan, kini disertai tangisan.
“Ibuu…ibuu.. Tolong akuu.. huuhuu…” teriakan itu terdengar lagi.
“Anakku.. aduh sampai nangis gitu. Gimana sih, kamu yang bilang jangan banyak omong, tapi kamu sendiri sekarang ngomong terus tiada henti. Sudahlah, ayo kita ke belakang!” Kata ibu dengan nada panik.
“Oh iya, maaf kak.. yasudah ayo!” ajak tante.
Akhirnya, keduanya yang dalam keadaan panik menghampiri kolam belakang rumah. Tiba-tiba mata mereka terbelalak saking terkejutnya. Terutama ibu, yang sudah tak bisa mengontrol lagi ekspresinya.
“Astaghfirullah.. Teteeehh!!!” ibu berteriak.
*~~*
Mentari dari ufuk timur bersinar sangat cerah, secerah pikiranku saat ini. Kokokkan ayam, dan kicauan burung serta hembusan angin segar semakin menyejukkan hati. Menambah ketentraman diri. Aku membuka setiap jendela rumahku. Aku merasa sangat bahagia, setelah beberapa bulan kebelakang aku mengalami kepenatan dan kepala yang terasa berat bak ditimpa berton-ton beban. Itu semua kualami karena aku harus meneyelesaikan serangkaian tugas dan ujian semester duaku di kelas XI SMA. Ditambah lagi, pada masa itu aku banyak mengikuti OSN Biologi tingkat kabupaten baik yang diselenggarakan resmi oleh Departemen Pendidikan maupun diselenggarakan oleh universitas. Ya, walaupun aku masih belum beruntung untuk menjadi seorang juara pada ajang OSN itu. Memang, menurutku itu hanyalah sebuah mimpi. Aku tidak pernah berharap lebih. Namun, aku tetap bersyukur. Alhamdulillah, Allah masih membantuku untuk bisa masuk 10 hingga 15 besar. Kuakui persiapanku kurang maksimal dalam mengahadapi kompetisi itu. Namun, kuakui pula persiapan yang sebegitu minim pun cukup melelahkan bagiku.
Lalu, apa yang membuatku merasa bahagia setelahnya? Apa yang membuatku terlepas dari semua beban itu? Aku yakin jawabanku ini pasti dibenarkan dan oleh hampir semua orang. Ya, jawabannya karena setelah itu aku mendapat libur panjang. Senang bukan kepalang. Karena aku dan keluargaku bersilaturahmi ke rumah bibiku. Itu adalah kegiatan rutin kami setiap libur panjang.
Liburanku sederhana saja. Jarang sekali aku mengunjungi tempat wisata atau berbelanja ria ke mall. Menurutku itu hanya menghambur-hamburkan uang saja. Ya, orang tuaku selalu mengarahkanku untuk mengisi liburan dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Jika dirumah sendiri biasanya aku mengisi liburan dengan belajar memasak, mengerjakan setiap pekerjaan rumah, main handphone, membaca novel, dan masih banyak lagi. Walaupun tidak setiap hari kulakukan semua kegiatan itu. Intinya, aku lebih banyak menghabiskan waktu liburku dirumah.
Di rumah bibi, aku banyak mengisi berbagai kegiatan bersama kedua sepupuku yang paling dekat denganku karena hanya selisih umur satu tahun. Kedua sepupuku berasal dari Sukabumi yang biasa kutemui satu tahun sekali. Kegiatan yang biasa kami lakukan antara lain lari pagi, mencuci baju,membuat kue, membersihkan rumah bibi kami, bermain game bersama, atau bahkan mengurus anak kecil. Karena banyak sepupuku yang masih kecil, dan kami harus mengajaknya bermain atau lebih tepatnya “mengurus”.
Namun, ada satu kegiatan yang biasa tidak kuikuti, yaitu memancing ikan. Ya, memang pada dasarnya aku kurang menyukai kegiatan itu. Menurutku, memancing itu membuang-buang waktu saja. Aku hanya menghabiskan waktuku dengan berdiam diri, hanya menunggu ikan-ikan berdatangan memakan umpan dan itu sangat membosankan bagiku.
Namun entah mengapa, tiba-tiba saat itu aku tergugah untuk ikut memancing karena semua sepupu sebayaku mengikutinya begitupula dengan ayah dan paman-pamanku. Walaupun sebenarnya aku merasa malas bukan main. Karena tiba-tiba ibu masuk ke kamar dan mengomel,
“Sudah sana ikut mancing. Kalo kamu sendirian terus di kamar main hp begini, mending kita pulang saja. Gak ada bedanya kan dengan dirumah? Ataauu.. kamu bantuin ibu-ibu di dapur!”
“Ohh… ya..ya.. Baiklah, aku ikut mancing saja.” Kataku.dengan nada agak kesal.
Jika dipikir lebih panjang lagi, lebih baik aku ikut memancing. Siapa tahu setelah terpaksa satu kali, kedepannya memancing bisa menjadi hobiku. Daripada harus “nimbrung” sendiri dengan ibu-ibu (ibu dan bibi-bibiku) di dapur, dan aku akan diam seribu bahasa mendengarkan obrolan mereka. Karena, memang dasarnya aku tidak suka banyak mengobrol, apalagi dengan orang yang tidak sebaya dan tidak terlalu dekat denganku. Mungkin, bisa jadi karena faktor anak tunggal yang tidak biasa bersosialisasi.
*~~*
Kegiatan memancing itu dimulai dengan mengaitkan umpan pada kail pancingan.
“Aduhhh.. tehh.. Masa siapin umpan aja gak bisa, sampai umpannya hancur gini? Kalah nih sama anak kelas 4 SD.” kata adik sepupuku dengan nada mengejek.
“Ya wajarlah, teteh kan gak biasa ikut mancing. Sekarang aja terpaksa loh..” jawabku dengan membela diri.
Panggilan “teteh” untuk kakak perempuan dan “aa” untuk kakak laki-laki sudah tidak asing lagi bagi keluarga kami yang memang asli dari Kuningan, Jawa Barat. Meskipun aku anak tunggal, aku biasa dipanggil “teteh” oleh keluargaku karena ibuku adalah anak tertua dalam keluargaku.
*~~*
Setelah memasang umpan, walaupun sedikit hancur, akupun melemparkan tali pancinganku ke kolam. Dan lagi-lagi aku melakukannya dengan tidak mulus. Beberapa kali tali pancinganku terbelit, menyangkut di pohon perdu, mengenai orang, dan beberapa kali pula sepupu-seupuku terus menertawakanku hingga terpingkal-pingkal, seketika itu pula aku membela diriku dengan alasan yang sama. Akhirnya, pada lemparan yang entah keberapa kalinya, akupun berhasil melempar tali pancinganku ke titik yang cukup jauh. Lumayan lah, untuk seorang pemula menurutku sudah cukup bagus.
Lima menit, sepuluh menit, pancinganku belum juga terasa ada yang menarik. Sepertinya, ikan-ikan itu mengetahui kalau orang yang hendak memancingnya adalah seorang pemula. Sehingga mereka menguji kesabaranku terlebih dahulu. Yang lebih menjengkelkannya lagi, ternyata ketika ditarik umpanku sudah tidak ada. Sehingga pikirku, “Jangankan manusia, ternyata ikan pun berhasil memancing emosiku.” Huh.. sabar..
Akhirnya setelah beberapa kali menarik ulur pancingan dan terus mengganti umpan, satu jam kemudian pancinganku terlihat bergerak tertarik ke kolam. Akupun menarik pancinganku, ternyata berat sekali, hingga pamanku turut membantu menarik ikan itu. Dan slapp!! Seekor ikan gurame besar terjerat kail pancinganku. Aku senang sekaligus bingung. Begitupun dengan para sepupuku hingga ternganga melihat peristiwa itu. Mugkin pikir mereka, “Aneh, mengapa seorang pemula bisa mengalahkan kami para master”.
Tanpa kusadari, akupun keluar dari sifat introvertku. Spontan aku berteriak kesenangan dan berlari kedalam rumah mengambil handphone untuk segera mengabadikan momen itu. aku berfoto selfie bersama ikan gurame hasil tangkapanku, begitupun dengan para sepupuku. Setelah mengambil beberapa gambar, disimpanlah ikan itu kedalam jaring di tepi kolam yang sudah dikaitkan, agar tidak lepas lagi. Namun, tiba-tiba terjadi hal yang tak terduga. Tangan kiriku yang masih memegang handphone mendadak licin dan tidak sanggup mencengkeram handphoneku dengan kuat. Sehingga terjadilah suatu insiden.
*~~*
“Byuurrr!!!” tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh ke dalam kolam itu.
“Aaaaaa…. Tidaaakk… Ibuuu tolong akuuuu!!!”
Tiba-tiba ibu tersentak dari duduk santainya di halaman rumah sambil asyik berbincang bersama bibiku yang menjadi tuan rumah.
“Loh dek, suara siapa itu? Seperti ada yang teriak dari kolam belakang” tanya ibu kepada bibi.
“Buu..bukannya itu suara anakmu? Jangan-jangaan… Dia tenggelam!” Kata bibi berseru.
“Lah kok bisa dia tenggelam? Dia kan jago renang. Eh, yaa gak jago-jago amat sih, setidaknya dia bisa renang lah!” kata ibu seraya tidak percaya.
“Udah jangan banyak omong, cepat lihat dia! Siapa tahu dia terpeleset, panik, lalu mendadak gak bisa renang, tenggelam, teruuss…”
Belum selesai bibi bicara, tiba-tiba terdengar lagi teriakan minta tolong dari kolam belakang rumah. Bahkan, kini disertai tangisan.
“Ibuu…ibuu.. Tolong akuu.. huuhuu…” teriakan itu terdengar lagi.
“Anakku.. aduh sampai nangis gitu. Gimana sih, kamu yang bilang jangan banyak omong, tapi kamu sendiri sekarang ngomong terus tiada henti. Sudahlah, ayo kita ke belakang!” Kata ibu dengan nada panik.
“Oh iya, maaf kak.. yasudah ayo!” ajak tante.
Akhirnya, keduanya yang dalam keadaan panik menghampiri kolam belakang rumah. Tiba-tiba mata mereka terbelalak saking terkejutnya. Terutama ibu, yang sudah tak bisa mengontrol lagi ekspresinya.
“Astaghfirullah.. Teteeehh!!!” ibu berteriak.
Ibu dan bibiku benar-benar terkejut melihat keadaanku di tepi kolam yang basah kuyup. Mungkin mereka mengira aku baru saja terpeleset hingga jatuh ke kolam.
“Ya Allah teh, kenapa bisa begini? Tapi kamu gapapa kan, gak ada yang luka?” tanya ibuku panik.
“Aduh bu, jangan pikirin aku.. aku emang sengaja terjun ke kolam.”. Rintihku.
“Lah, ngapain kamu ikut terjun ke kolam? Kalau kamu berhasil dapat ikan ya gak perlu ikut terjun ke sungai juga kan? Cukup tarik saja pancingannya. Hahaha..” kata bibiku seraya mengejek.
“Bibi kok malah ngejek aku sih. Sekarang lihat handphoneku mati, karena tadi jatuh ke kolam.. Ini semua karena memancing! Andai saja aku gak ikut, gak mungkin kejadian seperti ini. Huaaa…” kataku yang sudah tidak kuat menahan tangis.
“Loh, jangan salahkan mancingnya dong. Kamu harus introspeksi diri kenapa bisa begini. Mungkin kamu kurang hati-hati tadi. Atau biasanya setiap ujian itu datang karena kesalahan pada perbuatan kita sendiri loh… coba ingat-ingat lagi. Tadi kamu kesal kan sama ibu?” kata ibu dengan nada lembut.
“Ya, sedikit sih..” kataku sambil sesenggukan.
“Yasudah, sekarang kamu banyak bersabar. Urusan handphone itukan nanti bisa beli lagi. Yang penting kamu baik-baik aja sekarang. Ini juga bisa jadi peringatan buat kamu loh.. jangan membenci atau menyenangi sesuatu dengan berlebihan. Karena bisa jadi semua akan menjadi berkebalikan. Ketika kamu membenci kegiatan memancing, karena sudah mencoba dan mendapat ikan, akhirnya kamu senang bukan main. Ketika kamu sudah senang hingga lupa diri, tiba-tiba Allah menjatuhkan insiden ini.” Nasihat bapakku.
Akhirnya, aku menyadari bahwa ini adalah sebuah ujian. Sebelumnya aku telah berbuat beberapa kesalahan. Aku menyadari ketika aku berhasil mendapatkan ikan tadi, muncul sedikit rasa sombong didalam hatiku. Saking senangnya hingga aku nekat berfoto selfie dipinggir kolam. Terlalu berlebihan memang.
Malam harinya, kami melakukan pesta bakar ikan. Namun, menurutku tidak ada yang menarik saat itu. Tidak ada yang membuatku senang. Aku selalu teringat kejadian tadi sore dan teringat handphone kesayanganku. Sepupuku sesekali menghiburku jika ia melihatku murung. Insiden itu tidak akan pernah kulupakan dan akan kujadikan pelajaran hidup.
*~THE END~*

ceritanya bagus dan menginspirasi👍 lanjutkan:)
ReplyDeleteTerimakasih.. :)
Deleteceritanya menghibur teh, oh jadi gara gara itu hape teteh jatoh, wkwkckk
ReplyDeleteWkwk.. masih inget ya
DeleteBagus ceritanya, tapi sempat membingungkan di bagian sebelum penutup karena ada teks yang sama persis dengan teks di bagian awal :)
ReplyDeleteCukup menarik dan menginspirasi 👍
Oh yang diawal itu sejenis prolog biar orang penasaran, trs diceritain lengkapnya di paragraf inti. makasih sarannya
DeleteLain kali jangan selfie pinggir kolem ya mbaa wkwk... Tapi serius ini bagus sekali. Bener kata bapa apa jangan berlebih. Suka cerpen nya Dan suka bapakkkkk
ReplyDeleteSiap mbakku, sudah disampaikan ke bapake
DeleteBagus, kata-katanya juga mudah dipahami, ceritanya juga menarik.
ReplyDeleteTerimakasih.. :)
DeleteKeren zul, di tunggu karya berikutnya:)
ReplyDeleteTerimakasih, oke ditunggu ya
DeleteBagus cerita menarik juga zul :)
ReplyDeleteTerima kasih.. :)
DeleteBagus cerita menarik juga zul :)
ReplyDeleteBagus cerita menarik juga zul :)
ReplyDeleteCeritanya bagus dan menarik👍🏻 mengingatkan kita untuk selalu instrospeksi diri😁
ReplyDeleteHehe.. Terima kasih.. :)
DeleteEhm....pengalaman yang menyedihkan dan merugikan, harus ganti hp....
ReplyDeleteHmm.. iya2 :'(
DeleteCeritanya bagus dan menarik teh, ditunggu karya selanjutnya wkwk
ReplyDeleteSip, makasih dek😊
DeleteCeritanya menarik zul👏
ReplyDeleteMakasih yaa
DeleteDitunggu karya selanjutnya😊
ReplyDeleteHehe, do'akan saja ya :))
DeleteBagus Zul. Terus berkarya ya :)
ReplyDeleteSiap! Makasih yaa
DeleteMenarik sekali zul👍
ReplyDeleteSyukron mbak lus..
DeleteMenginspirasi zul👍
ReplyDeleteMenginspirasi zup. Di tunggu karya selanjutnya.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteCeritanya bagus ka 👍
ReplyDeleteTemanya menarik zul, semangat terus ya :)
ReplyDeleteBagusss ceritanya zul👌
ReplyDeleteSeru jul ceritanya 😂
ReplyDeleteBagus zul ceritanya . Menarik
ReplyDelete